It's My Life

It's My Life
Lika Liku LUCKY!

Rabu, 07 April 2010

Thank You (lanjutan)

Kali ini beralih ke Final Exam untuk mata kuliah Cultural Anthropology di semester 4 lalu. Masih mau bilang Thank You nih soalnya tugas ini juga dibantuin tapi kali ini sama Mbak Yu nya si Kang Mas. Berhubung si Mbak Yu PTT di Kep.Mentawai, jadilah saya mengintrogasi si Mbak Yu untuk nilai di final saya ini. Berikut data-data yang saya dapat:

ETNOGRAFI

1. Perlengkapan Hidup

  • Rumah adat

Uma (rumah komunal untuk beberapa keluarga) sebagai pusat, sedangkan rumah Lalep (rumah individual untuk satu keluarga) dan rumah Rusuk (rumah sementara untuk pasangan suami istri muda).

  • Pakaian adat

Masyarakat Mentawai yang masih menggunakan pakaian tradisional berupa kabit (cawat) dari kulit kayu untuk para lelaki dan rok serta penutup dada untuk kaum wanita adalah tato yang dibuat di hampir seluruh tubuh.
Tato yang bagi orang kota identik dengan rocker atau preman itu bagi masyarakat Mentawai memiliki berbagai arti secara adat. Mulai dari tanda pengenal kelompok yang bisa dianalogikan dengan kartu tanda pengenal bagi kita, lambang status sosial, profesi, prestasi, dan tentu saja sebagai aksesori abadi yang menempel di tubuh.

  • Senjata

Panah beracun, tombak untuk berburu binatang didalam hutan

  • Alat-alat produksi

- Orang Mentawai bangun pukul 03.00 dini hari, melaksanakan rencana kerja untuk hari itu. Meski mereka pergi ke hutan dan ladang hanya untuk mengembala babi atau ayam.

- Barang-barang keperluan sehari-hari memang tidak semuanya bisa dihasilkan sendiri, karenanya perlu ada pasar-pasar penukaran kebutuhan, yang sering didominasi oleh para pendatang.

  • Alat-alat rumah tangga

Dalam hal pemukiman dan kiat pemenuhan kebutuhan sangat tergantung kepada kemurahan alam yang telah menyediakan kebutuhan sehari-hari. Hal ini berdampak jauh kepada kesehatan masyarakat secara umum. Setiap musim buah-buahan sering ditemui masyarakat dijangkiti penyakit kolera/disentri, juga karena keterbatasan sarana dan petugas kesehatan serta kebiasaan penduduk kepada pedukunan sikerei, sebagai aspek sosial budaya.

  • Transportasi

Transportasi yang biasa digunakan adalah transportasi air dengan memakai sampan, boat, kapal-kapal kecil lainnya. Tetapi karena jauhnya jarak antara tanah tepi dengan kepulauan ini, dan belum memadainya alat transportasi maka tidak akan ada setiap waktu di kehendaki.

2. Mata Pencaharian

Mata pencaharian awal masyarakat Mentawai adalah bertani, menjadi nelayan, menyadap pohon karet, berkebun kelapa sawit, beternak babi, sapi, lembu. Masyarakat yang tinggal di pesisir, khususnya bagi para nelayan sering menggunakan Kerambah/ Jaring apung untuk menangkap dan beternak ikan. Pertanian pangan seperti padi, hortikultura, dan ka­cang-kacangan, kemudian perkebunan yang menghasilkan komoditi ekspor seperti kelapa, kayu manis, cengkeh, gambir dan lada. Hasil pertanian lainnya ialah ikan, baik yang berasal dari perairan umum maupun budidaya. Mata pencaharian lainnya ialah di sektor jasa, perdagangan, dan industri yang akhir-akhir ini juga menunjukkan peranan yang semakin penting di dalam menunjang pertumbuhan ekonomi penduduk.

3. Sistem Kemasyarakatan

Penduduknya masih hidup dalam kelompok kecil yang terisolir dalam keterbatasan komunikasi.

· Sikap suka gotong royong, mengenal adanya muhrim, dan terdapatnya hukuman berat terhadap pezina. Masyarakat Mentawai memang tidak mengenal apa yang disebut zina, karena hukuman yang berlaku keras terhadap pezina. Mentawai berprinsip orang yang melakukan perzinaan hukumanyang pantas adalah bunuh sampai mati atau diusir dari kampung halaman. Karena pengaruh zaman dan juga ajaran penghapusan dosa dalam gerakan misionaris pandangan terhadap perzinaan di Mentawai sekarang mulai melemah. Hukuman yang banyak diterapkan adalah denda (tullo, bahasa Mentawai berarti denda yang dibayar dengan harta seperti Parang, Peralatan-peralatan Adat, babi, bahkan Peralatan Rumah Tangga). Pengambilan denda ini bisa sampai harta kekayaan habis, akhirnya pelaku zina terpaksa juga meninggalkan kampung halaman karena sudah melarat ditambah malu.

· Sikap harga menghargai dan berkeadilan sangat menonjol. Orang yang tidak tahu menghargai orang lain, tidak mustahil menjadi mangsa hukum. Penduduk tidak boleh berbuat seenak perut. Semua urusan mesti diselesaikan menurut jalur dan norma yang berlaku. Keadilan masyarakat Mentawai berlaku dengan ketat. "Ada sama di makan, tidak ada sama ditahan, demikian konsekuensi hidup bermasyarakat di Mentawai. Seorang yang mendapat rusa buruan di hutan, akan memukul pentungan sebagai pemberitahuan kepada seluruh masyarakat sesuku dengannya untuk dibagi dan dinikmati bersama. Kehidupan keluarga juga tidak luput menegakkan aturan ini.

· Masyarakat Mentawai jujur dan pantang didustai. Hal lain yang mesti dijaga dengan Mentawai supaya mereka jangan didustai. Sekali mereka “kena” mereka tidak akan percaya seumur hidup.

· Orang Mentawaipun mengenal aurat dan berbudaya malu. Banyak orang mengenal Mentawai menurut cara berpakaiannya kabit, yakni menutup tubuh sekedarnya dengan kulit kayu. Bagi wanita memakai jenis rok yang terbuat dari kulit kayu dan pelepah pisang kering, (ini cerita masa dahulu). Tetapi mesti disadari bahwa memakai pakaian seperti ini bukanlah menjadi adat di Mentawai. Keadaan alam yang memaksa serta keterbelakangan menyebabkan mereka hanya memakai pakaian seperlunya saja. Masyarakat pulau ini tidak ada yang tidak mengerti mana auratnya. Wanita memakai rok sepuluh centimeter dibawah lutut, menutup dada dengan menyilangkan pelepah dari tengkuk diikatkan ke perut. Tradisi berpakaian seperti ini jarang ditemui di seluruh suku primitif manapun di dunia. Denda dan hukuman akan siap mendera bagi laki-laki yang menyia-nyiakan auratnya terlihat oleh orang lain. Seperti yang diceritakan tokoh masyarakat Mentawai menyatakan bahwa dari cawat itu tidak boleh terlihat keluar sehelai bulupun.

4. Kesenian

Pendekatan kebudayaan seharusnya lebih diutamakan dari pada pendekatan kehendak. Penduduk Mentawai bukanlah orang yang terbelakang, melainkan masyarakat yang beradab. Sejak 1621 mereka telah berhubungan dengan orang tanah tepi (pantai barat Sumatra), khususnya orang Tiku. Penduduk pulau Mentawai ketika itu belum paham dengan bahasa orang Tiku, begitu juga sebaliknya. Di kampung-kampung pedalaman sekalipun, di depan rumah (Uma) selalu tergantung kuali besar. Dari penelitian, tidak ditemukan satu kebudayaan yang menghasilkan kerajinan logam. Tidak ada pandai besi. Padahal tidak seorangpun orang Mentawai yang tidak memiliki parang panjang.

Orang Mentawai mempunyai puncak kebudayaan, berisi sepuluh ajaran, yang kalau diteliti sangat dekat dengan Islam. Pertama adalah orang Mentawai percaya kepada Kekuasaan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Ini dikenal dengan Teikamanua.

Mereka telah mengenal Maha Esa.

Kedua, Adil. Orang Mentawai kalau membagi sesuatu harus sama banyak. Tidak berat sebelah.

Ketiga, Kebersamaan dan tidak bertemu satu kegiatan yang tidak dipikul bersama, seperti membuat uma, mencari kayu kehutan untuk perahu dan berburu kehutan.

Keempat, Tidak boleh berzina. Perkawinan bagi mereka merupakan hal yang sakral. Kalau ada yang melanggar dihukum oleh adat. Dahulu hukumannya ada yang dibunuh.

Kelima, tidak boleh masuk rumah kalau di dalamnya hanya ada perempuan saja.

Keenam, Kalau berjalan bersama-sama maka laki-laki harus di depan.

Ketujuh, orang Mentawai jujur dan lugu. Kalau kita menjanjikan sesuatu kepada penduduk, ternyata tidak diberikan kepada mereka sesuai dengan yang dijanjikan maka mereka tetap terima pemberian dimaksud untuk sementara waktu. Namun yang dijanjikan akan selalu ditagih sepanjang waktu dan tetap mereka tanyakan dan minta.

Kedelapan, berat sepikul ringan sejinjing. Semua pekerjaan mereka lakukan bergotong royong.

Kesembilan, tidak mau mengambil hak orang lain dan menghormati tamu.

Kesepuluh, Orang Mentawai lebih mengutamakan persatuan dan persaudaraan. Terbukti apabila seorang mendapatkan hewan buruan umumnya diberirtahu kesegenap penjuru dengan menggunakan tudukkat (bhs.Mentawai artinya alat kentongan yang terbuat dari kayu dan diletakkan dipintu rumah penduduk).

Budaya Mentawai yang unik sudah pula dikenal sejak lama. Orang Mentawai secara historis ditengarai sebagai gelombang pertama bangsa Indonesia yang datang dari Asia daratan. Mereka terisolasi di Kepulauan Mentawai, ketika kepulauan itu berpisah dari daratan Asia dan Pulau Sumatra akibat mencairnya es menjadi lautan pada Zaman Pleistocene, kira-kira satu juta sampai 10 ribu tahun lalu. Pemisahan inilah yang menyebabkan flora dan fauna Mentawai sangat berbeda dengan Pulau Sumatra, begitu juga dengan budayanya.

Cerita tentang kepulauan Mentawai:

Leluhur orang Mentawai meninggalkan kisah tentang asal-usal mereka yang datang dari pulau Nias, di sebelah utara kepulauan Mentawai. Adapun nama Mentawai berasal dari “Aman Tawe”. Konon, dahulu kala Ama Tawe pergi memancing ke laut dan terjadilah badai yang dahsyat sehingga menyeret Ama Tawe dan mendamparkannya di suatu tempat yang asing. Ama Tawe menemukan di pulau yang baru itu tanah yang amat subur. Terdapat banyak sumber makanan. Pohon sagu dan keladi tumbuh sendiri tanpa ada yang menanam dan merawatnya. Kemudian Ama Tawe kembali ke Nias, memutuskan untuk mengajak istri dan anak-anaknya untuk menetap di Mentawai. Keturunan Ama Tawe lah yang mendiami daerah itu dan lama-kelamaan menyebar ke seluruh kepulauan.

5. Sistem Pengetahuan

· Tatto dapat diketahui tentang perihal diri pemakaiannya. Bangsawan atau rakyat biasa, suku si pemakainya, usia serta jumlah anik dan keluarga. Bahkan dari tatto dapat diketahui prestasi seseorang, misalnya berapa ekor binatang buruannya yang berhasil dibunuhnya.

· Suku Mentawai tidak mengenal siapa yang kuat, ia yang berkuasa. Tidak dikenal adanya dispensasi hukuman kepada penguasa dan orang berpengaruh bila ia terbukti bersalah. Hukum tetap berlaku bagi semua anggota suku. Seorang kerei (dukun) misalnya, yang terbukti melakukan penganiayaan dengan kekuatan batin akan segera diusir dari negeri itu dan tidak boleh kembali lagi. Sebelum berangkat, terdakwa dibekali sampan dan bekal makanan untuk beberapa hari.

· Masyarakat tradisional Mentawai hidup secara sederhana di kampung-kampung di tengah hutan atau di hulu-hulu sungai dalam rumah adat yang dinamakan uma ini hidup terpisah satu sama lain, namun mereka sumua sangat menjaga keseimbangan dengan alam. Penjagaan keseimbangan dengan alam itu didasarkan kepada kepercayaan mereka terhadap kekuatan daun-daun atau yang terkenal dengan kepercayaan arat sabulungan. Tak heran jika dalam setiap upacara adat orang Mentawai selalu menggunakan bunga dan daun-daunan.
Dalam konsep arat sabulungan, alam dikuasai oleh roh-roh pelindung yang melindungi mereka dari berbagai macam bencana alam. Roh pulalah yang menghukum mereka jika melanggar pantangan atau berbuat kesalahan. Karena itu orang Mentawai dikenal sering melakukan upacara ritual untuk melindungi mereka dari bencana. Misalnya melepas sampan ke sungai, mendirikan uma, mengobati orang sakit, dan pengangkatan sikerei atau tabib yang pesta akbarnya berlangsung hingga tiga bulan.

6. Religi/Kepercayaan

Tahun 1954, terjadi perubahan besar di Mentawai, dengan adanya musyawarah tiga agama, Islam, Kristen Protestan dan Arat Sabulungan. Salah satu keputusan musyawarah adalah bahwa Arat Sabulungan harus ditinggalkan oleh masyarakat Mentawai dan mereka dipersilahkan memilih agama resmi di dalam Negara RI.

Di tahun 1955, seluruh masyarakat Mentawai sudah menjadi masyarakat beragama. Arat Sabulungan ditinggalkan. Hal ini membuktikan bahwa musyawarah bukan hanya sebuah produk pemaksaan. Kalau ada yang lari ke hutan, jumlahnya tidak banyak, sekitar satu keluarga saja. Mereka dikenal dengan suku Sekudai yang hidup di hutan sampai hari ini. Minggatnya suku Sekudai ke pedalaman Sagalubek bukan hanya disebabkan rapat tiga agama, tetapi lebih banyak karena pergeseran paham antar suku di Rokdok.

Digugusan ini telah ada gerakan dakwah yang telah berjalan lebih dari 32 tahun, berkonsentrasi pada pengembangan dakwah Islam di sana. Masyarakat sebagian masih menganut paham Arat Sabulungan, yaitu adat istiadat daerah Mentawai. Itu bukan agama. Sebenarnya masyarakat di sana sudah mengenal Kekuatan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Kepercayaan mereka lebih dekat dengan Islam. Di dalam doa mereka yang dipimpin oleh sikere (dukun) juga ada di sebut nama Tuhan (Allah) yang mereka kenal dengan Teika Manua (Tuhan Yang Tunggal). Orang Mentawai bukanlah orang yang benci terhadap pendatang atau penyebar agama, walaupun mereka sudah menganut sebuah kebiasaan nenek moyang yang dikenal dengan arat sabulungan (belum berupa agama, karena tidak ada aturan-aturan peribadatan). Misionaris pertama masuk ke Mentawai tahun 1901. Dipimpin August Lett, seorang pendeta dari Jerman (Zending Protestan). Akan tetapi nasib jualah yang menyebabkan August Lett, harus mati dibunuh penduduk Mentawai, setelah delapan tahun ia di sana (1908). Kematian August Lett bukan karena mengembangkan agama Protestan, tetapi karena menjadi penghubung tentara kompeni Hindia Belanda

7. Bahasa

· Bahasa yang berlaku di Mentawai dipergunakan masyarakat secara universal. Tatto selain berperan sebagai aktualisasi karya seni asli Mentawai, juga berperan sebagai komunikasi langsung.

· Setiap anak kecil di Mentawai mengerti isyarat berita yang di sampaikan melalui pukulan kentongan. Kentongan yang dipukul ini biasanya bernama TUDUK-KAT suatu bentuk teknologi sederhana dalam berkomunikasi semacam isyarat Morse yang diketuk melalui ketontong yang terbuat dari kayu dan tersedia di setiap rumah. Apapun peristiwa yang terjadi seperti kematian, kelahiran, bahaya, dapat buruan diinformasikan melalui ketukan ketontong tersebut. Apa pun yang terjadi di tengah suku akan di ketahui oleh suku yang lain. Menurut cerita perantau Padang (Sasareu menurut istilah Mentawai) isyarat Morse Mentawai ini sangat efektif untuk menyebarkan informasi di seluruh pedalam kepulauan Mentawai. Jarang penduduk yang tidak mengerti akan tetapi susah dipelajari oleh orang lain (Pendatang)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar