BAB V
PERSEPSI: INTI KOMUNIKASI
Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih, mengorganisasikan dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.
Persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi yang identik dengan penyandian – balik (decoding) dalam proses komunikasi. Definisi John R. Wenburg dan William W. Wilmot: “Persepsi dapat didefinisikan sebagai cara organisme memberi makna”. Rudolf F. Verderber: “Persepsi adalah proses penafsiran informasi indrawi” atau J. Cohen: ”Persepsi didefinisikan sebagai interpretasi bermakna atau sensasi sebagai representative objek eksternal; persepsi adalah pengetahuan yang tampak mengenai apa yang ada diluar sana.
Persepsi disebut inti komunikasi karena jika persepsi kita tidak akurat, tidak mungkin kita berkomunikasi dengan efektif. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi antarindividu, semakin mudah dan sering mereka berkomunikasi dan sebagai konsekuensinya semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas.
Persepsi meliputi pengindraan (sensasi) melalui alat – alat indra kita (indra peraba, indra penglihat, indra penciuman, indra pengecap dan indra pendengaran), atensi dan interpretasi. Sensasi rujukan pada pesan yang dikirimkan ke otak lewat penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman dan pengecapan. Reseptor indrawi adalah penghubung antara otak manusia dan lingkungan sekitar.
Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken juga Judi P. Pearson dan Paul E. Nelson, menyebutkan bahwa persepsi terdiri dari tiga aktivitas, yaitu seleksi, organisasi dan interpretasi. Yang dimaksut seleksi sebenarnya mencangkup sensasi dan atensi, sedangakn organisasi melekap pada interpretasi, yang dapat didefinisikan sebagai ”meletakkan suatu rangsangan bersama rangsangan lainnya segungga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna.”
Tahap terpenting dalam persepsi adalah interpretasi atas informasi yang kita peroleh melalui salah satu atau lebih indra kita. Namun kita tidak dapat langsung menginterpretasikan makna setiap objek secara langsung, melainkan menginterpretasikan makna informasi yang kita percayai mewakili objek tersebut.
Banyak rangsangan sampai kepada kita melalui pancaindra kita, namun kita tidak mempersepsi semua itu secara acak. Alih – alih, kita mengenal objek tersebut sebagai spesifik dan kejadian kejadian tertentu sebagai memiliki pola – pola tertentu. Alasannya karena persepsi kita adalah proses aktif yang menuntut suatu tatanan dan makna atas berbagai rangsangan yang kita terima. Kita tidak mungkin memperhatikan dan menafsirkan semua rangsangan. Sebenarnya hanya rangsangan tertentu yang kita perhatikan, mungkin hanya sebagian kecil saja dari rangsangan, sementara kita mengabaikan sebagian besar lainnya karena selain tidak sesuai dengan kepentingan kita, kemampuan pancaindra kita pun terbatas dan lagi, tidak semua rangsangan itu mempunyai daya tarik yang sama.
Umumnya kita hanya dapat memperhatikan satu rangsangan saja secara penuh. Kalau kita memperhatikan dua atau lebih rangsangan pada saat yang sama, kualitas perhatian kita akan berkurang terhadap rangsangan – rangsangan tersebut.
Persepsi manusia sebenarnya terbagi dua: persepsi terhadap objek (lingkungan fisik) dan persepsi terhadap manusia. Persepsi terhadap manusia lebih sulit dan kompleks, karena manusia bersifat dinamis, sering juga disebut persepsi sosial meskipun kadang – kadang manusia disebut juga objek. Akan tetapi untuk memahami persepsi social secara utuh, terlebih dulu kita akan membahas persepsi tentang lingkungan fisik. Persepsi lingkungan fisik berbeda dengan persepsi social.
- Persepsi terhadap objek melalui lambang – lambang fisik, sedangkan persepsi terhadap orang melalui lambang – lambang verbal dan non verbal. Manusia lebih aktif daripada objek, serta sulit diramalkan.
- Persepsi terhadap objek menanggapi sifat – sifat luar, sedangkan persepsi terhadap manusia menanggapi sifat – sifat luar dan dalam. Dengan kata lain, persepsi terhadap manusia bersifat interaktif.
- Objek tidak bereaksi sedangkan manusia bereaksi. Dengan kata lain, objek bersifat statis, sedangkan manusia bersifat dinamis. Oleh karena itu, persepsi terhadap manusia lebih beresiko daripada persepsi terhadap objek.
PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK
Dalam menilai suatu benda saja, kita tidak selalu sepakat. Dalam mempersepsi lingkungan fisik, kita terkadang melakukan kekeliruan. Persepsi lewat sentuhan, penciuman dan pengecapan mempunyai nilai bukti lemah. Latar belakang pengalaman, budaya dan suasana psikologis yang berbeda juga membuat persepsi kita berbeda atas suatu objek.
PERSEPSI SOSIAL
Persepsi social adalah proses menangkap arti objek – objek sosial dan kejadian – kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Manusia bersifat emosional sehingga penilaian terhadap mereka mengandung resiko. Menggunakan kata – kata R.D. Laing, ”Manusia selalu memikirkan orang lain dan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya dan apa yang orang lain pikirkan mengenai orang lain itu dan seterusnya. Setiap orang mempunyai gambaran berbeda mengenai realitas di sekelilingnya. Beberapa prinsip penting mengenai persepsi sosial yang menjadi pembenaran atas perbedaan persepsi sosial ini adalah:
- Persepsi berdasarkan pengalaman
- Persepsi bersifat selektif
- Persepsi bersifat dugaan
- Persepsi bersifat evaluatif
- Persepsi bersifat kontekstual
PERSEPSI DAN BUDAYA
Factor – factor internal bukan saja mempengaruhi atensi sebagai salah satu aspek persepsi, tetapi juga mempengaruhi persepsi kita secara keseluruhan terutama penafsiran atas suatu rangsangan. Agama, ideology, tingkat intelektualitas, tingkap ekonomi, pekerjaan dan cita rasa sebagai factor – factor internal jelas mempengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas. Dengan demikian, persepsi itu terikat oleh budaya.
Oleh karena persepsi berdasarkan budaya yang telah dipelajari, maka persepsi seseorang atas lingkungannya bersifat subjektif. Larry A. Samovar dan Richard E. Porter mengemukakan enam unsur budaya yang secara langsung mempengaruhi persepsi kita tentang berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, yakni:
- Kepercayaan (believes), nilai (values) dan sikap (attitudes)
- Pandangan dunia (worldview)
- Organisasi social (social organization)
- Tabiat manusia (human nature)
- Orientasi kegaiatan (activity orientation)
- Persepsi tentang diri sendiri dan orang lain (perception of self and others)
KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI
Persepsi kita sering tidak cermat. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita. Kita mempersepsi sesuatu atau seseorang sesuai dengan pengharapan kita. Beberapa bentuk kekeliruan dan kegagalan persepsi tersebut adalah sbb:
- Kesalahan atribusi
- Efek halo
- Stereotip
- Prasangka
- Gegar budaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar