It's My Life

It's My Life
Lika Liku LUCKY!

Kamis, 08 April 2010

Pembelajaran di Dunia Per-televisi-an

Siip lah! Ini dia mata kuliah yang paling heboh pas praktek. Gimana engga, kalo Final Exam nya berupa Live Studio-Tapping Shooting? However, ini dia mata kuliah yang 'menyeret' saya masuk kedalam dunia per-televisi-an. Yang jelas ga sama persis dengan shooting-shooting kayak yang di TV bgitu sih, tapi kurang lebih prosedurnya sama. Dimulai dengan bikin proposal yang njelimet inilah, semua kegiatan produksi berawal. Dan tentunya, project kali ini juga digunakan sebagai ujian internasional LCCI.


  1. CONTENT

I. BACKGROUND

The theme of this program is about culinary. It is interesting topic, because at this time people really curious about culinary thing. Trough this program, they will know a wide variety of food in Jakarta. Besides that, recently a lot of people spend their time when weekend is for searching the “location of special food”, because of that they are need, the information about “dining”, with this program people can add and know the reference for food and the location of special food in Jakarta.

The theme of this program is about culinary and the topic that we will share and discuss is about variety of food in Jakarta. We will visit several places in Jakarta which has a unique, famous, and special food. The places that we will visit are:

Rini’s Meatball Farmacy

For east of jakarta, we will visit Rawamangun. The location near tip top swalayan, in front of Gereja Christian Jawa (GKJ), there are so many food in their. In this area, the place usually crowded is Rini’s Meatball Farmacy because the taste of the meatballs unique different with another meatballs. In addition, this place take people interest especially pedestrian.

Baba Rafi’s Kebab

There's a lot kind of culinary spot on Tebet Utara Dalam. Such as, Bebek ginyo, Sushi Ya, Kebab Baba Rafi, Burger grill, De Johns Cafe, Comic Cafe, Roti Bakar Edi,etc. Kebab Baba Rafi is the most different in this area, because it's have much branch they were open among Indonesia. Kebab Baba Rafi is the one and only kebab from Indonesia.

Sate dan Sop Bang Mansyur

For East Jakarta, which is at Jl. Kp. Melayu Besar No.33 Tebet, South Jakarta. We will visit Sate dan Sop Bang Mansyur dining place. There’s a lot of culinary spot at Jl. Kp. Melayu Besar area, such as seafood, meatball, Indonesian traditional food and etc, but we chose sate dan sop bang Mansyur, because they have a good flavor and good meat textures. Besides that the location of sate dan sop kambing bang mansyur really strategies. Sate dan sop bang Mansyur dining place, is the usual path traveled by the workers, so there will be a lot of people visit this place after going out from work, and will be easy for us to get information and opinions directly from the visitors.

Nasi Bakar dan Iga Penyet Wangi Daun

There’s a various of food in Kampung Melayu besar area, which is in East Jakarta. Besides sate dan sop bang Mansyur and various of dining place, we choose Nasi Bakar dan Iga penyet. The reason why, we choose this place as our target because Nasi Bakar dan Iga penyet is the unique food. Nasi Bakar, is classified as a new food, so it will be interesting to try nasi bakar dan iga penyet. Then, nasi bakar also has the various and interesting topping inside. In addition, the ingredients contained in nasi bakar dan iga penyet are also very authentic from Indonesian spice.

Objectives/ the reasons we choose culinary theme

- To create awareness within viewers, mind that Jakarta still has an attractive dining place with a variety of delicious food and affordable prices.

- To inform audiences about the dining location in Jakarta.

- To inform audiences, how to choose the good food that can adequate health for their body.

II. TITLE OF THE PROGRAM:

“ICIP – ICIP”

The reason why, we chose “ICIP – ICIP” for our program title because it is interesting, memorable, listenable and also easy to say. In addition, if audiences hear about this title they will know and realize, that this show, which is “ICIP – ICIP” is the show that has culinary theme. In English ICIP – ICIP means test the food.

III. TARGET AUDIENCE:

a) Gender : male and female

b) Age : 15 – 40 years old

c) Social Status : B and C1 Classes

d) Economic : middle class and lower middle class

e) Marital Status : All status (single, married and etc)

f) Occupation population : student of school, student of college, and employess ( Intermediate managerial, Professional, Supervisor or clerical.).

g) Lifestyle : For those who like to eat and want to always try to a variety of food.

h) Geographic : big cities and small towns that
existing throughout Indonesia

  1. MESSAGES

By watching this program, the audiences will know and find the location of variety foods on Jakarta. The audiences are targeted for those who like to eat and want to always try to a variety of food and also for a lot of people who spend their time when weekend is for

  1. ­TONE & STYLE:

Icip – Icip is an program entertainment that will shoot in informal way. The concept is the program will entertain audiences in Saturday Morning while they enjoy the weekend. Because of that ICIP – ICIP program can give the references about “culinary” for audiences, before they will spend their weekend with going to dining location.

  1. STRUCTURE:

Icip – Icip will have four segments in every episode. Four segments contain of four “dining location” video until the last. Firstly, chosen the location in East Jakarta, at Rawamangun. Secondly, chosen the location in South of Jakarta, at Kebab Baba Rafi. Thirdly chosen the location in East Jakarta, at Sate dan Sop Bang Mansyur. Fourth, chosen the Location East Jakarta, at Nasi Bakar dan Iga Penyet Wangi Daun. There are will be three hosts who are female and male. The reason why, because female more details when give the information and will be more appropriate and have emotional disclosure with the audiences. Because of that, audiences will be interest to trying the dining location what already give, after watch this program. It because emotional disclosure effect.


....and so on deh pokoknya :)

Pengalaman Pertama Belajar Fotografi

Di post ini, saya bakalan banyak masukin gambar tapi bukan sembarang gambar loh. Bukan juga sengaja untuk mengeksplor objek didalamnya, tapi karena ini semua adalah tugas dari mata kuliah Photographic Communication di semester 4 lalu. Yaa, emang ga bagus-bagus amat sih tapi yang jelas berkesan lah, soalnya saya jadi tau gimana teknik-teknik dasar fotografi sampe akhirnya saya sempet jadi photographer acara lamaran teman saya. Lumayan kaann? :D
Teknik Backlight

Teknik Under

Teknik Sidelight

Teknik Panning

Teknik Wide to Tele

Detective Wannabe

Wah, kalo inget gimana dulu kira-kira mata kuliah Investigative Reporting, lucu bgt deh. Satu kelas pada saat itu pada penasaran, bakalan kayak gimana sih mata kuliah yang namanya aja udah "menjual" banget ini? Dan kayak apa ya dosennya nanti? Keep wondering, dan akhirnya dosennya masuk ke kelas saya. Kesan pertama: dosennya biasa aja, ordinary looks. Tapi ternyata bener aja apa yang saya dan teman-teman sekelas pikirin. Emang bener, mata kuliahnya dan pembawaan sang dosen yang Extra(cheese) Ordinary! Bayangin aja, baru hari pertama kita mulai perkuliahan, saya dan temen-temen sekelas udah disuruh menyelidiki satu sama lain. Dan memang kebetulan, dari satu kelas itu paling cuma beberapa yang udah kenal satu sama lain karena kita semua baru aja majoring jadi hampir semuanya di dalam kelas, bisa dibilang teman baru. Well, saya kedapetan nyelidikin seorang teman dan kebetulan dia udah sempet kenalan sama saya. Mau tau donk, info apa aja yang saya dapat? Please welcome,,,

Laporan Tugas INVESTIGATIVE REPORTING

Wiendya Ayotyas Intan

2007110862

MC11-10B

Nama : Siti Gegen Maemunah

Nama India : Gegen Dhip Kaur

TTL : Medan, 24 November 1987

Anak ke : 5, dari 5 bersaudara

Ayah, Ibu : India Punjabi, Padang

Alamat : Jl Tebet Utara

No telp : - , -

Asal kelas : 11- 17A

Warna Fav : Putih

Makanan fav : soup asparagus, makanan india

Minuman fav : semua jenis jus

Acara fav : segala jenis kartun, film Korea

No sepatu : 37 – 38

Sepatu fav : Charles and Keith

- Awalnya beragama hindu, tapi sekarang menjadi mu’alaf (masuk Islam)

- Tinggal di Jakarta baru 3 tahun, selebihnya tinggal di Medan.

- Tinggal di Jakarta, mengontrak. Tinggal hanya berdua dengan kakak.

- Kalau pulang kampus, sering main ke apartment Arina, anak kelas Adv11 – 2B

- Alergi sama tempat kotor

- Kalau mau tidur + bangun tidur dan mau mandi, pasti setel lagu

- Kalau mau b.a.b, tidak boleh ada orang sama sekali di ruangan sekitar dia

- Suka tempat tenang seperti pantai, tapi cuma mau kesana kalau perginya bareng - bareng

- Miss ring – ring, setiap istirahat pasti nelfon

- Berangkat ke kampus dengan taxi atau angkot

- Selalu sampai di kampus 5 – 10 menjelang menit masuk kelas

- Shopaholic

- Punya beberapa binatang peliharaan yaitu 2 kura – kura, 12 hamster

Rabu, 07 April 2010

Thank You (lanjutan)

Kali ini beralih ke Final Exam untuk mata kuliah Cultural Anthropology di semester 4 lalu. Masih mau bilang Thank You nih soalnya tugas ini juga dibantuin tapi kali ini sama Mbak Yu nya si Kang Mas. Berhubung si Mbak Yu PTT di Kep.Mentawai, jadilah saya mengintrogasi si Mbak Yu untuk nilai di final saya ini. Berikut data-data yang saya dapat:

ETNOGRAFI

1. Perlengkapan Hidup

  • Rumah adat

Uma (rumah komunal untuk beberapa keluarga) sebagai pusat, sedangkan rumah Lalep (rumah individual untuk satu keluarga) dan rumah Rusuk (rumah sementara untuk pasangan suami istri muda).

  • Pakaian adat

Masyarakat Mentawai yang masih menggunakan pakaian tradisional berupa kabit (cawat) dari kulit kayu untuk para lelaki dan rok serta penutup dada untuk kaum wanita adalah tato yang dibuat di hampir seluruh tubuh.
Tato yang bagi orang kota identik dengan rocker atau preman itu bagi masyarakat Mentawai memiliki berbagai arti secara adat. Mulai dari tanda pengenal kelompok yang bisa dianalogikan dengan kartu tanda pengenal bagi kita, lambang status sosial, profesi, prestasi, dan tentu saja sebagai aksesori abadi yang menempel di tubuh.

  • Senjata

Panah beracun, tombak untuk berburu binatang didalam hutan

  • Alat-alat produksi

- Orang Mentawai bangun pukul 03.00 dini hari, melaksanakan rencana kerja untuk hari itu. Meski mereka pergi ke hutan dan ladang hanya untuk mengembala babi atau ayam.

- Barang-barang keperluan sehari-hari memang tidak semuanya bisa dihasilkan sendiri, karenanya perlu ada pasar-pasar penukaran kebutuhan, yang sering didominasi oleh para pendatang.

  • Alat-alat rumah tangga

Dalam hal pemukiman dan kiat pemenuhan kebutuhan sangat tergantung kepada kemurahan alam yang telah menyediakan kebutuhan sehari-hari. Hal ini berdampak jauh kepada kesehatan masyarakat secara umum. Setiap musim buah-buahan sering ditemui masyarakat dijangkiti penyakit kolera/disentri, juga karena keterbatasan sarana dan petugas kesehatan serta kebiasaan penduduk kepada pedukunan sikerei, sebagai aspek sosial budaya.

  • Transportasi

Transportasi yang biasa digunakan adalah transportasi air dengan memakai sampan, boat, kapal-kapal kecil lainnya. Tetapi karena jauhnya jarak antara tanah tepi dengan kepulauan ini, dan belum memadainya alat transportasi maka tidak akan ada setiap waktu di kehendaki.

2. Mata Pencaharian

Mata pencaharian awal masyarakat Mentawai adalah bertani, menjadi nelayan, menyadap pohon karet, berkebun kelapa sawit, beternak babi, sapi, lembu. Masyarakat yang tinggal di pesisir, khususnya bagi para nelayan sering menggunakan Kerambah/ Jaring apung untuk menangkap dan beternak ikan. Pertanian pangan seperti padi, hortikultura, dan ka­cang-kacangan, kemudian perkebunan yang menghasilkan komoditi ekspor seperti kelapa, kayu manis, cengkeh, gambir dan lada. Hasil pertanian lainnya ialah ikan, baik yang berasal dari perairan umum maupun budidaya. Mata pencaharian lainnya ialah di sektor jasa, perdagangan, dan industri yang akhir-akhir ini juga menunjukkan peranan yang semakin penting di dalam menunjang pertumbuhan ekonomi penduduk.

3. Sistem Kemasyarakatan

Penduduknya masih hidup dalam kelompok kecil yang terisolir dalam keterbatasan komunikasi.

· Sikap suka gotong royong, mengenal adanya muhrim, dan terdapatnya hukuman berat terhadap pezina. Masyarakat Mentawai memang tidak mengenal apa yang disebut zina, karena hukuman yang berlaku keras terhadap pezina. Mentawai berprinsip orang yang melakukan perzinaan hukumanyang pantas adalah bunuh sampai mati atau diusir dari kampung halaman. Karena pengaruh zaman dan juga ajaran penghapusan dosa dalam gerakan misionaris pandangan terhadap perzinaan di Mentawai sekarang mulai melemah. Hukuman yang banyak diterapkan adalah denda (tullo, bahasa Mentawai berarti denda yang dibayar dengan harta seperti Parang, Peralatan-peralatan Adat, babi, bahkan Peralatan Rumah Tangga). Pengambilan denda ini bisa sampai harta kekayaan habis, akhirnya pelaku zina terpaksa juga meninggalkan kampung halaman karena sudah melarat ditambah malu.

· Sikap harga menghargai dan berkeadilan sangat menonjol. Orang yang tidak tahu menghargai orang lain, tidak mustahil menjadi mangsa hukum. Penduduk tidak boleh berbuat seenak perut. Semua urusan mesti diselesaikan menurut jalur dan norma yang berlaku. Keadilan masyarakat Mentawai berlaku dengan ketat. "Ada sama di makan, tidak ada sama ditahan, demikian konsekuensi hidup bermasyarakat di Mentawai. Seorang yang mendapat rusa buruan di hutan, akan memukul pentungan sebagai pemberitahuan kepada seluruh masyarakat sesuku dengannya untuk dibagi dan dinikmati bersama. Kehidupan keluarga juga tidak luput menegakkan aturan ini.

· Masyarakat Mentawai jujur dan pantang didustai. Hal lain yang mesti dijaga dengan Mentawai supaya mereka jangan didustai. Sekali mereka “kena” mereka tidak akan percaya seumur hidup.

· Orang Mentawaipun mengenal aurat dan berbudaya malu. Banyak orang mengenal Mentawai menurut cara berpakaiannya kabit, yakni menutup tubuh sekedarnya dengan kulit kayu. Bagi wanita memakai jenis rok yang terbuat dari kulit kayu dan pelepah pisang kering, (ini cerita masa dahulu). Tetapi mesti disadari bahwa memakai pakaian seperti ini bukanlah menjadi adat di Mentawai. Keadaan alam yang memaksa serta keterbelakangan menyebabkan mereka hanya memakai pakaian seperlunya saja. Masyarakat pulau ini tidak ada yang tidak mengerti mana auratnya. Wanita memakai rok sepuluh centimeter dibawah lutut, menutup dada dengan menyilangkan pelepah dari tengkuk diikatkan ke perut. Tradisi berpakaian seperti ini jarang ditemui di seluruh suku primitif manapun di dunia. Denda dan hukuman akan siap mendera bagi laki-laki yang menyia-nyiakan auratnya terlihat oleh orang lain. Seperti yang diceritakan tokoh masyarakat Mentawai menyatakan bahwa dari cawat itu tidak boleh terlihat keluar sehelai bulupun.

4. Kesenian

Pendekatan kebudayaan seharusnya lebih diutamakan dari pada pendekatan kehendak. Penduduk Mentawai bukanlah orang yang terbelakang, melainkan masyarakat yang beradab. Sejak 1621 mereka telah berhubungan dengan orang tanah tepi (pantai barat Sumatra), khususnya orang Tiku. Penduduk pulau Mentawai ketika itu belum paham dengan bahasa orang Tiku, begitu juga sebaliknya. Di kampung-kampung pedalaman sekalipun, di depan rumah (Uma) selalu tergantung kuali besar. Dari penelitian, tidak ditemukan satu kebudayaan yang menghasilkan kerajinan logam. Tidak ada pandai besi. Padahal tidak seorangpun orang Mentawai yang tidak memiliki parang panjang.

Orang Mentawai mempunyai puncak kebudayaan, berisi sepuluh ajaran, yang kalau diteliti sangat dekat dengan Islam. Pertama adalah orang Mentawai percaya kepada Kekuasaan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Ini dikenal dengan Teikamanua.

Mereka telah mengenal Maha Esa.

Kedua, Adil. Orang Mentawai kalau membagi sesuatu harus sama banyak. Tidak berat sebelah.

Ketiga, Kebersamaan dan tidak bertemu satu kegiatan yang tidak dipikul bersama, seperti membuat uma, mencari kayu kehutan untuk perahu dan berburu kehutan.

Keempat, Tidak boleh berzina. Perkawinan bagi mereka merupakan hal yang sakral. Kalau ada yang melanggar dihukum oleh adat. Dahulu hukumannya ada yang dibunuh.

Kelima, tidak boleh masuk rumah kalau di dalamnya hanya ada perempuan saja.

Keenam, Kalau berjalan bersama-sama maka laki-laki harus di depan.

Ketujuh, orang Mentawai jujur dan lugu. Kalau kita menjanjikan sesuatu kepada penduduk, ternyata tidak diberikan kepada mereka sesuai dengan yang dijanjikan maka mereka tetap terima pemberian dimaksud untuk sementara waktu. Namun yang dijanjikan akan selalu ditagih sepanjang waktu dan tetap mereka tanyakan dan minta.

Kedelapan, berat sepikul ringan sejinjing. Semua pekerjaan mereka lakukan bergotong royong.

Kesembilan, tidak mau mengambil hak orang lain dan menghormati tamu.

Kesepuluh, Orang Mentawai lebih mengutamakan persatuan dan persaudaraan. Terbukti apabila seorang mendapatkan hewan buruan umumnya diberirtahu kesegenap penjuru dengan menggunakan tudukkat (bhs.Mentawai artinya alat kentongan yang terbuat dari kayu dan diletakkan dipintu rumah penduduk).

Budaya Mentawai yang unik sudah pula dikenal sejak lama. Orang Mentawai secara historis ditengarai sebagai gelombang pertama bangsa Indonesia yang datang dari Asia daratan. Mereka terisolasi di Kepulauan Mentawai, ketika kepulauan itu berpisah dari daratan Asia dan Pulau Sumatra akibat mencairnya es menjadi lautan pada Zaman Pleistocene, kira-kira satu juta sampai 10 ribu tahun lalu. Pemisahan inilah yang menyebabkan flora dan fauna Mentawai sangat berbeda dengan Pulau Sumatra, begitu juga dengan budayanya.

Cerita tentang kepulauan Mentawai:

Leluhur orang Mentawai meninggalkan kisah tentang asal-usal mereka yang datang dari pulau Nias, di sebelah utara kepulauan Mentawai. Adapun nama Mentawai berasal dari “Aman Tawe”. Konon, dahulu kala Ama Tawe pergi memancing ke laut dan terjadilah badai yang dahsyat sehingga menyeret Ama Tawe dan mendamparkannya di suatu tempat yang asing. Ama Tawe menemukan di pulau yang baru itu tanah yang amat subur. Terdapat banyak sumber makanan. Pohon sagu dan keladi tumbuh sendiri tanpa ada yang menanam dan merawatnya. Kemudian Ama Tawe kembali ke Nias, memutuskan untuk mengajak istri dan anak-anaknya untuk menetap di Mentawai. Keturunan Ama Tawe lah yang mendiami daerah itu dan lama-kelamaan menyebar ke seluruh kepulauan.

5. Sistem Pengetahuan

· Tatto dapat diketahui tentang perihal diri pemakaiannya. Bangsawan atau rakyat biasa, suku si pemakainya, usia serta jumlah anik dan keluarga. Bahkan dari tatto dapat diketahui prestasi seseorang, misalnya berapa ekor binatang buruannya yang berhasil dibunuhnya.

· Suku Mentawai tidak mengenal siapa yang kuat, ia yang berkuasa. Tidak dikenal adanya dispensasi hukuman kepada penguasa dan orang berpengaruh bila ia terbukti bersalah. Hukum tetap berlaku bagi semua anggota suku. Seorang kerei (dukun) misalnya, yang terbukti melakukan penganiayaan dengan kekuatan batin akan segera diusir dari negeri itu dan tidak boleh kembali lagi. Sebelum berangkat, terdakwa dibekali sampan dan bekal makanan untuk beberapa hari.

· Masyarakat tradisional Mentawai hidup secara sederhana di kampung-kampung di tengah hutan atau di hulu-hulu sungai dalam rumah adat yang dinamakan uma ini hidup terpisah satu sama lain, namun mereka sumua sangat menjaga keseimbangan dengan alam. Penjagaan keseimbangan dengan alam itu didasarkan kepada kepercayaan mereka terhadap kekuatan daun-daun atau yang terkenal dengan kepercayaan arat sabulungan. Tak heran jika dalam setiap upacara adat orang Mentawai selalu menggunakan bunga dan daun-daunan.
Dalam konsep arat sabulungan, alam dikuasai oleh roh-roh pelindung yang melindungi mereka dari berbagai macam bencana alam. Roh pulalah yang menghukum mereka jika melanggar pantangan atau berbuat kesalahan. Karena itu orang Mentawai dikenal sering melakukan upacara ritual untuk melindungi mereka dari bencana. Misalnya melepas sampan ke sungai, mendirikan uma, mengobati orang sakit, dan pengangkatan sikerei atau tabib yang pesta akbarnya berlangsung hingga tiga bulan.

6. Religi/Kepercayaan

Tahun 1954, terjadi perubahan besar di Mentawai, dengan adanya musyawarah tiga agama, Islam, Kristen Protestan dan Arat Sabulungan. Salah satu keputusan musyawarah adalah bahwa Arat Sabulungan harus ditinggalkan oleh masyarakat Mentawai dan mereka dipersilahkan memilih agama resmi di dalam Negara RI.

Di tahun 1955, seluruh masyarakat Mentawai sudah menjadi masyarakat beragama. Arat Sabulungan ditinggalkan. Hal ini membuktikan bahwa musyawarah bukan hanya sebuah produk pemaksaan. Kalau ada yang lari ke hutan, jumlahnya tidak banyak, sekitar satu keluarga saja. Mereka dikenal dengan suku Sekudai yang hidup di hutan sampai hari ini. Minggatnya suku Sekudai ke pedalaman Sagalubek bukan hanya disebabkan rapat tiga agama, tetapi lebih banyak karena pergeseran paham antar suku di Rokdok.

Digugusan ini telah ada gerakan dakwah yang telah berjalan lebih dari 32 tahun, berkonsentrasi pada pengembangan dakwah Islam di sana. Masyarakat sebagian masih menganut paham Arat Sabulungan, yaitu adat istiadat daerah Mentawai. Itu bukan agama. Sebenarnya masyarakat di sana sudah mengenal Kekuatan Tunggal yang menciptakan langit dan bumi. Kepercayaan mereka lebih dekat dengan Islam. Di dalam doa mereka yang dipimpin oleh sikere (dukun) juga ada di sebut nama Tuhan (Allah) yang mereka kenal dengan Teika Manua (Tuhan Yang Tunggal). Orang Mentawai bukanlah orang yang benci terhadap pendatang atau penyebar agama, walaupun mereka sudah menganut sebuah kebiasaan nenek moyang yang dikenal dengan arat sabulungan (belum berupa agama, karena tidak ada aturan-aturan peribadatan). Misionaris pertama masuk ke Mentawai tahun 1901. Dipimpin August Lett, seorang pendeta dari Jerman (Zending Protestan). Akan tetapi nasib jualah yang menyebabkan August Lett, harus mati dibunuh penduduk Mentawai, setelah delapan tahun ia di sana (1908). Kematian August Lett bukan karena mengembangkan agama Protestan, tetapi karena menjadi penghubung tentara kompeni Hindia Belanda

7. Bahasa

· Bahasa yang berlaku di Mentawai dipergunakan masyarakat secara universal. Tatto selain berperan sebagai aktualisasi karya seni asli Mentawai, juga berperan sebagai komunikasi langsung.

· Setiap anak kecil di Mentawai mengerti isyarat berita yang di sampaikan melalui pukulan kentongan. Kentongan yang dipukul ini biasanya bernama TUDUK-KAT suatu bentuk teknologi sederhana dalam berkomunikasi semacam isyarat Morse yang diketuk melalui ketontong yang terbuat dari kayu dan tersedia di setiap rumah. Apapun peristiwa yang terjadi seperti kematian, kelahiran, bahaya, dapat buruan diinformasikan melalui ketukan ketontong tersebut. Apa pun yang terjadi di tengah suku akan di ketahui oleh suku yang lain. Menurut cerita perantau Padang (Sasareu menurut istilah Mentawai) isyarat Morse Mentawai ini sangat efektif untuk menyebarkan informasi di seluruh pedalam kepulauan Mentawai. Jarang penduduk yang tidak mengerti akan tetapi susah dipelajari oleh orang lain (Pendatang)